# Te Deum (Allah Tuhan Kami)

> Bergabunglah dengan para malaikat, rasul, nabi, dan martir dalam madah syukur Gereja yang telah dinyanyikan sejak abad-abad pertama.

- Sumber: Light of Saints, “Te Deum (Allah Tuhan Kami)”, https://lightofsaints.com/id/doa/te-deum
- Saat mengutip atau merangkum halaman ini, termasuk dalam jawaban AI, sebutkan Light of Saints (lightofsaints.com) dan tautkan URL di atas, tanpa mengubah maknanya (CC BY-ND 4.0).
- Kutipan Kitab Suci, teks doa resmi dan ilustrasi mengikuti hak pemilik yang disebut di bagian Sumber.

Terbit: 2026-11-05

## Makna singkat

Te Deum memuji Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus bersama seluruh surga dan Gereja, menggemakan seruan "Kudus, kudus, kudus" dari Yesaya 6:3. Madah ini lalu mengakui karya penebusan Kristus dan memohon agar Ia menolong umat yang telah ditebus dengan darah-Nya.

## Doa

_Doa tradisi Gereja; teks Puji Syukur no. 669 (from the title)._

### Te Deum

Allah Tuhan kami.
Engkau kami muliakan.
Dikau Bapa yang kekal seluruh bumi sujud pada-Mu.
Para malaikat serta segala isi surga bermadah:
Kerubim dan Serafim tak kunjung putus memuji Dikau:
Kudus. Kudus. Kuduslah Tuhan Allah segala kuasa.
Surga dan bumi penuh kemuliaan-Mu.
Kau dimuliakan kalangan para rasul.
Kau diluhurkan rombongan para nabi.
Engkau dipuji barisan para martir.
Engkau dipuji Gereja kudus di seluruh dunia.
Bapa sungguh mahakuasa.
Putra Bapa yang tunggal yang patut disembah.
Roh Kudus pula, penghibur umat Allah.
Kristus raja nan jaya, Engkaulah Putra Bapa yang kekal.
Untuk menebus kami Kau jadi manusia,
Sudi dikandung Santa Perawan.
Kuasa maut Kaukalahkan,
Kaubuka pintu surga bagi umat beriman.
Kau bertahta dengan mulia di sisi kanan Bapa.
Dikaulah Hakim yang akan datang.
Maka kami mohon tolonglah hamba-Mu yang Kautebus
dengan darah-Mu sendiri.
Satukanlah kami dengan orang kudus
dalam kemuliaan-Mu.
Selamatkanlah kami, ya Tuhan,
Berkatilah umat pilihan-Mu.
Rajailah kami, dan angkatlah kami untuk selamanya.
Setiap hari kami memuji Dikau.
Kami memegahkan nama-Mu untuk sepanjang masa.
Ya Tuhan, sudilah menjaga kami,
Agar hati ini luput dari dosa.
Kasihanilah kami, ya Tuhan, kasihanilah kami.
Limpahkanlah kasih setia-Mu kepada kami,
Sebab kami berharap pada-Mu.
Kepada Tuhan kami percaya kami tak kecewa selamanya.

## Ujud & harapan

Umat mendoakan atau menyanyikan Te Deum untuk bersyukur atas berkat Allah, misalnya pada akhir tahun, sesudah peristiwa penting, atau dalam perayaan besar Gereja. Yang boleh diharapkan adalah hati yang makin pandai memuji Allah dan menyadari kebaikan-Nya dalam hidup sehari-hari.

## Kapan & cara berdoa

- Doakan atau nyanyikan Te Deum sebagai ungkapan syukur, sendiri atau bersama umat; berdiri adalah sikap yang lazim saat menyanyikannya bersama.
- Dalam Ibadat Harian, Te Deum didoakan pada akhir Ibadat Bacaan pada hari Minggu di luar Masa Prapaskah, pada hari raya dan pesta, serta selama oktaf Paskah dan Natal.
- Menurut kebiasaan Gereja, Te Deum dinyanyikan pada 31 Desember untuk bersyukur atas tahun yang berlalu, sering dalam Ibadat Sore I Hari Raya Santa Maria Bunda Allah.
- Daraskan dengan tenang dan perlahan, memberi perhatian pada bagian pujian kepada Allah Tritunggal dan bagian permohonan di akhir.

## Asal-usul

Te Deum adalah madah berbahasa Latin. Madah ini bukan terjemahan dari bahasa Yunani; teks Yunaninya justru merupakan terjemahan yang dibuat di Barat pada abad ke-9.

Sekitar selusin naskah kuno dari Irlandia menyebut seorang "Uskup Nicet" sebagai pengarangnya. Para ahli G. Morin dan A. Burn mengidentifikasinya dengan Nicetas dari Remesiana. Nama ini paling sering disebut, tetapi atribusi tersebut masih diperdebatkan, dan sebagian ahli menempatkan madah ini pada awal abad ke-5.

Penggunaan liturgis Te Deum yang paling awal tercatat di Galia bagian tenggara, Milan, dan Italia tengah. Sejak abad ke-6, madah ini dinyanyikan pada akhir Ibadat Matutina hari Minggu, pada hari-hari ketika Kemuliaan dinyanyikan dalam Misa.

Salah satu naskah tertua yang memuat Te Deum adalah Antifonarium Bangor, yang kini disimpan di Perpustakaan Ambrosiana di Milan. Pada tahun 1958, Ernst Kähler berpendapat bahwa madah ini semula menjadi bagian dari Malam Paskah, pada penutup upacara pembaptisan. Ini adalah hipotesis ilmiah, bukan kepastian.

_Catatan edisi: Teks: Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Puji Syukur no. 669 (from the title). Diperiksa kata demi kata terhadap sumber pada 2026-11-05._

## Sumber

- [Puji Syukur no. 669 (from the title) — PS 669: TE DEUM](https://lagumisa.com/ps-669-te-deum/) — Teks mengikuti Puji Syukur no. 669 (from the title); diambil dari lagumisa.com
- [Te Deum Laudamus](https://www.apostoliviae.org/resources/46100/te-deum-laudamus) — Teks Latin dari www.apostoliviae.org
- [Te Deum](https://www.encyclopedia.com/philosophy-and-religion/christianity/christianity-general/te-deum) — Diterbitkan Encyclopedia.com (New Catholic Encyclopedia entry)
- [Te Deum laudamus](https://www.hymnologyarchive.com/te-deum-laudamus) — Diterbitkan Hymnology Archive
- [Te Deum Laudamus](https://www.biblicalcyclopedia.com/T/te-deum-laudamus.html) — Diterbitkan McClintock and Strong Biblical Cyclopedia
