Santo & Santavatican.vaDiperingati 12 Oktober2 menit baca

Santo Carlo Acutis: Remaja yang Menjadikan Ekaristi Pusat Hidupnya

Kisah Santo Carlo Acutis, remaja dari Milan yang menempatkan Ekaristi di pusat hari-hari biasanya dan menghidupinya lewat pelayanan, persahabatan, serta kesetiaan sampai akhir hidupnya.

Berkati orang lain dengan membagikan kisah ini.

Boleh disalin dan dibagikan dengan mencantumkan lightofsaints.com.

Bagikan
Ilustrasi bergaya gouache seorang remaja berambut gelap, bersweter biru tua dan bercelana gelap, berlutut di bangku gereja dengan kepala tertunduk dan kedua tangan terkatup. Di sampingnya ada tas sekolah terbuka sebagian berisi buku tulis tanpa tulisan terbaca. Di depan terdapat altar bermonstrans emas dengan hosti putih dan dua lilin menyala, serta salib berfigur Kristus di dinding. Cahaya siang masuk dari jendela tinggi di kiri.
Ilustrasi Santo Carlo Acutis

Carlo Acutis bukan tokoh dari zaman yang jauh. Ia lahir di London pada 1991, dibaptis dua minggu kemudian, lalu tumbuh di Milan setelah keluarganya kembali ke Italia. Libretto Misa kanonisasinya bahkan menyebut dia sebagai santo pertama dari generasi milenial.

Imannya tidak muncul tiba-tiba. Menurut homili Paus Leo XIV pada hari kanonisasi, Carlo mengenal Yesus pertama-tama di rumah, berkat orang tuanya, Andrea dan Antonia. Kemudian ia mengenal-Nya di sekolah, dan terutama dalam sakramen-sakramen yang dirayakan di paroki.

Ketika baru berusia tujuh tahun, Carlo diizinkan menerima Komuni Pertama di Biara Romite Ambrosiane di Bernaga, Perego, wilayah Lecco. Sepanjang hidupnya, ikatannya dengan Ekaristi tampak sangat dalam.

Ilustrasi: Carlo Acutis kecil menerima Komuni Pertama di kapel biara sederhana.
Pada usia tujuh tahun, Carlo menerima Komuni Pertama di Biara Romite Ambrosiane di Bernaga. · Ilustrasi

Libretto kanonisasi mencatat bahwa Carlo mengikuti Misa setiap hari. Pada hari-hari ketika ia sibuk dengan sekolah, ia melakukan komuni batin, yaitu doa yang mengungkapkan kerinduan untuk bersatu dengan Yesus ketika tidak menyambut Komuni secara langsung. Homili kanonisasi juga menyebut kebiasaannya berdoa, terutama Adorasi Ekaristi, serta sering mengaku dosa.

Ia juga melakukan kurban-kurban kecil sebagai silih atas kurangnya kasih yang ditunjukkan kepada Yesus dalam Ekaristi, lalu menceritakan hal itu kepada teman-temannya. Sumber Gereja mengutip kata-katanya yang terkenal, yang menyebut Ekaristi sebagai jalan bebas hambatan menuju surga. Semua itu tidak menjauhkannya dari hidup biasa. Menurut homili, ia memadukan doa, olahraga, belajar, dan amal secara wajar dalam hari-harinya.

Iman itu juga terlihat dalam pelayanan. Selain bersekolah, Carlo menjadi katekis, pengajar iman, di parokinya, Santa Maria Segreta di Milan. Di sana ia belajar merancang halaman web sambil membantu mengerjakan situs paroki bersama seorang mahasiswa teknik komputer.

Ilustrasi: Carlo Acutis remaja merancang tata letak situs paroki di komputer bersama seorang mahasiswa.
Di paroki Santa Maria Segreta, Carlo belajar merancang halaman web sambil membantu mengerjakan situs paroki. · Ilustrasi

Libretto menggambarkannya sebagai remaja yang ceria, mudah bergaul, dan berhati baik. Ia tidak menyembunyikan imannya dan kasihnya kepada Yesus. Ia siap menolong teman sekelas yang membutuhkan dan bersahabat dengan orang miskin di lingkungannya. Ketika mereka meminta bantuan, ia memberikan sebagian uang sakunya.

Pada Oktober 2006, Carlo didiagnosis menderita leukemia agresif. Dalam beberapa hari, kesehatannya memburuk. Ia mempersembahkan penderitaannya bagi Paus, bagi kebaikan Gereja, dan dengan harapan masuk surga. Di Rumah Sakit San Gerardo, Monza, ia menerima Sakramen Pengurapan Orang Sakit. Carlo wafat pada 12 Oktober 2006, dalam usia 15 tahun 5 bulan.

Ilustrasi: Carlo Acutis menerima Sakramen Pengurapan Orang Sakit dengan tenang di rumah sakit.
Di Rumah Sakit San Gerardo, Monza, Carlo menerima Sakramen Pengurapan Orang Sakit. · Ilustrasi

Pada 2018, Paus Fransiskus mengizinkan diumumkannya dekret yang menyatakan bahwa Carlo telah menghayati kebajikan kristiani secara heroik. Setelah Gereja mengakui mukjizat pertama, ia dibeatifikasi di Basilika Atas Santo Fransiskus, Assisi, pada 10 Oktober 2020. Pengakuan mukjizat kedua membuka jalan menuju kanonisasi. Dalam Misa 7 September 2025, Paus Leo XIV menyatakan Carlo sebagai santo bersama Pier Giorgio Frassati, untuk dihormati di seluruh Gereja.

Sekilas

Diperingati
12 Oktober
Lahir
London, Inggris, 3 Mei 1991; dibaptis dua minggu kemudian vatican.va
Komuni Pertama
Usia tujuh tahun, di Biara Romite Ambrosiane, Bernaga di Perego (Lecco) vatican.va
Paroki
Santa Maria Segreta, Milan, tempat ia melayani sebagai katekis vatican.va
Wafat
12 Oktober 2006, dalam usia 15 tahun 5 bulan, setelah dirawat di Rumah Sakit San Gerardo, Monza vatican.va
Beatifikasi
10 Oktober 2020, Basilika Atas Santo Fransiskus, Assisi vatican.va
Kanonisasi
7 September 2025 oleh Paus Leo XIV, bersama Pier Giorgio Frassati vatican.va

Bawa kisah ini dalam doamu.

Konteks & sumber

Dokumen resmi Vatican 1

Homili Paus Leo XIV, paragraf pembuka setelah sambutan; Homili Paus Leo XIV, paragraf tentang Carlo; Homili Paus Leo XIV, paragraf tentang praktik iman; Homili Paus Leo XIV, paragraf penutup

Official Vatican URL supplied in approved brief. Research snapshot; rights and final paraphrase require human review.

Dokumen resmi Vatican 2

[PDF page 19] Canonizationis formula; [PDF page 9] Profil biografis Carlo Acutis (Inggris); [PDF page 8] Profil biografis Carlo Acutis (Italia)

Official Vatican URL supplied in approved brief. Research snapshot; rights and final paraphrase require human review.

Boleh disalin dan dibagikan dengan mencantumkan lightofsaints.com. Hak salin