Kisah AlkitabLukas 15:11-324 menit baca

Anak yang Hilang: Bapa yang Mencari Kedua Anaknya

Dalam Lukas 15:11-32, Yesus bercerita tentang ayah yang berlari menyambut anak bungsunya dan keluar berbicara dengan anak sulungnya yang marah.

Berkati orang lain dengan membagikan kisah ini.

Boleh disalin dan dibagikan dengan mencantumkan lightofsaints.com.

Bagikan
Seorang ayah berlari di jalan berdebu dan merangkul anaknya yang kurus dan lelah pulang dari negeri jauh.
Ilustrasi

Inti

Dalam Lukas 15:11-32, Yesus bercerita tentang anak bungsu yang memboroskan warisannya, lalu pulang dan disambut ayahnya dengan pesta, sementara anak sulung marah dan menolak masuk. Menurut ajaran para Paus, perumpamaan ini memperkenalkan Allah sebagai Bapa yang berbelas kasihan, yang mencari setiap orang yang tersesat, baik yang pergi jauh maupun yang tinggal di rumah dengan hati yang jauh.

Lukas mencatat bagaimana Yesus membuka perumpamaan ini: “Yesus berkata lagi: "Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki.” (Luk 15:11) Si bungsu kemudian meminta bagian harta yang menjadi haknya, dan sang ayah membagi-bagikan kekayaannya di antara mereka berdua.

Beberapa hari kemudian, si bungsu menjual seluruh bagiannya dan pergi ke negeri yang jauh, lalu memboroskan hartanya dengan hidup berfoya-foya. Bayangkan uang yang semula terasa tak akan habis itu perlahan lenyap. Lalu bencana kelaparan melanda negeri itu, dan ia mulai melarat.

Ia bekerja pada seorang majikan yang menyuruhnya menjaga babi di ladang. Ia ingin mengisi perutnya dengan ampas makanan babi, tetapi tidak seorang pun memberikannya. Mungkin baru saat itulah ia merasakan sepinya hidup tanpa ada yang peduli.

Seorang pemuda berpakaian lusuh duduk sendirian di ladang kering di antara kawanan babi, tampak lapar dan kesepian.
Si bungsu menjaga babi di negeri yang jauh (Luk 15:15-16)

Di titik terendah itu ia menyadari keadaannya. Orang upahan ayahnya berlimpah makanan, sedangkan ia hampir mati kelaparan. Ia memutuskan untuk bangkit dan pulang, mengaku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap ayahnya, lalu meminta dijadikan orang upahan, karena merasa tidak layak lagi disebut anak.

Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. (Luk 15:20)

Alkitab Deuterokanonika: Luk 15:11-32

Barangkali sang ayah sudah lama berharap melihat sosok itu di kejauhan. Setelah dirangkul ayahnya, si anak mengucapkan pengakuannya: ia telah berdosa dan tidak layak lagi disebut anak. Permintaan menjadi orang upahan tidak ia ucapkan; barangkali sang ayah sudah lebih dulu menyela, sebab ia menyuruh hamba-hambanya membawa jubah terbaik, cincin untuk jarinya, dan sepatu untuk kakinya.

Di halaman rumah, sang ayah memegang bahu anaknya yang berlutut sementara hamba membawa jubah, cincin, dan sepatu.
Sang ayah menyambut anaknya dengan jubah, cincin, dan sepatu (Luk 15:22)

Ia juga menyuruh menyembelih anak lembu tambun untuk pesta, sebab anaknya telah mati dan hidup kembali, telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria di rumah itu.

Sementara itu, anak sulung berada di ladang. Ketika pulang dan mendekati rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. Ia memanggil seorang hamba dan bertanya apa artinya. Hamba itu menjelaskan bahwa adiknya telah kembali dengan sehat dan ayahnya menyembelih anak lembu tambun. Anak sulung marah dan tidak mau masuk.

Sang ayah keluar dan berbicara dengannya. Anak sulung mengeluh bahwa bertahun-tahun ia melayani dan tidak pernah melanggar perintah, tetapi tidak pernah diberi seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatnya. Ia tidak menyebut si bungsu adiknya, melainkan anak bapa, yang menurut tuduhannya memboroskan harta bersama pelacur. Mungkin kekecewaan itu sudah lama ia pendam.

Saat senja, sang ayah keluar dari rumah yang terang dan mengulurkan tangan kepada anak sulung yang berdiri menjauh dengan tangan bersilang.
Sang ayah keluar membujuk anak sulung (Luk 15:28)

Ayahnya menjawab bahwa anak sulung selalu bersamanya dan segala miliknya adalah miliknya juga. Lalu ia menyebut si bungsu sebagai adik: “Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali."” (Luk 15:32) Yesus mengakhiri cerita di sini, tanpa memberi tahu apakah anak sulung masuk ke pesta.

Latar Perumpamaan Bapa dan Dua Anak

Perumpamaan ini terdapat dalam Injil Lukas pasal 15, ayat 11 sampai 32. Paus Fransiskus menjelaskan bahwa, menurut Lukas, Yesus menceritakannya bagi orang Farisi dan ahli Taurat yang bersungut-sungut karena Ia makan bersama orang berdosa. Menurut Paus, anak sulunglah yang mewakili mereka: ia tinggal di rumah bersama ayahnya, tetapi jauh di dalam hati.

Nama populernya perumpamaan anak yang hilang, tetapi Paus Benediktus XVI dan Paus Fransiskus menyebutnya perumpamaan tentang bapa dan kedua anaknya, sebutan yang menempatkan sang ayah di tengah cerita. Pada Angelus Minggu Prapaskah IV, 14 Maret 2010, Paus Benediktus XVI mencatat bahwa Injil ini diwartakan pada hari Minggu itu.

Bagi yang mencari gambar perumpamaan ini, Paus Fransiskus dalam katekese Audiensi Umum 16 April 2025 menyinggung lukisan terkenal Rembrandt yang dengan indah menggambarkan kembalinya anak yang hilang kepada ayahnya.

Makna Belas Kasihan Bapa

Paus Benediktus XVI mengajarkan bahwa perumpamaan ini memperkenalkan Allah sebagai Bapa yang menderita ketika manusia tersesat dan bersukacita ketika ia kembali. Walaupun orang menjauh, Allah terus mengikutinya dengan kasih dan berbicara kepada hati nuraninya untuk memanggilnya pulang. Paus Fransiskus menegaskan hal yang sama: di mana pun dan bagaimana pun seseorang tersesat, Allah selalu datang mencarinya.

Kedua anak, menurut Paus Benediktus XVI, melambangkan dua cara yang belum dewasa dalam berelasi dengan Allah: memberontak dan taat secara kekanak-kanakan. Keduanya diatasi lewat pengalaman belas kasihan. Paus Fransiskus menambahkan bahwa anak sulung pun tersesat, sebab tinggal di rumah tidak cukup bila hati menyimpan kesombongan dan dendam. Sang ayah keluar menemui keduanya.

Langkah si bungsu dapat dibaca sebagai jalan pertobatan: menyadari dosa, bangkit, pulang, dan mengaku, lalu disambut belas kasihan. Bagi orang muda, langkah itu bisa dimulai dengan mengakui kesalahan secara jujur di hadapan Allah dan sesama, termasuk lewat Sakramen Tobat. Menurut laporan Vatican News tentang homili Paus Fransiskus di Rabat tahun 2019, akhir yang dibiarkan terbuka ini dimaksudkan untuk dilengkapi setiap orang lewat cara memandang dan memperlakukan sesama.

Sekilas

Bacaan
Lukas 15:11-32
Bentuk
Perumpamaan
Tokoh
Yesus · Ayah · Anak bungsu · Anak sulung · Orang upahan · Hamba-hamba
Tempat
Negeri yang jauh · Ladang tempat menjaga babi · Ladang ayah · Rumah ayah
Dibacakan dalam Misa
Minggu Prapaskah IV (Angelus Paus Benediktus XVI, 14 Maret 2010) vatican.va
Dibacakan dalam Misa
Minggu Laetare, Minggu Prapaskah IV (Misa Paus Fransiskus di Rabat, 31 Maret 2019) vaticannews.va

Baca perikopnya di imankatolik.or.id (situs luar)

Kisah ini diceritakan kembali oleh tim editorial Light of Saints dari Kitab Suci edisi Katolik dan sumber Gereja yang tercantum, dengan bantuan AI, lalu diperiksa editor. Sebagian suasana dan perasaan tokoh adalah penggambaran kami. Untuk teks lengkap, bacalah perikopnya di Kitab Suci.

Bawa kisah ini dalam doamu.

Doakan: Doa Tobat

Pertanyaan umum

Perumpamaan anak yang hilang ada di ayat berapa?

Perumpamaan ini terdapat dalam Injil Lukas 15:11-32. Pada Angelus Minggu Prapaskah IV, 14 Maret 2010, Paus Benediktus XVI mencatat bahwa Injil ini diwartakan pada hari Minggu itu.

Apa arti perumpamaan anak yang hilang?

Menurut Paus Benediktus XVI, perumpamaan ini memperkenalkan Allah sebagai Bapa yang menderita ketika manusia tersesat dan bersukacita ketika ia kembali. Kedua anak menggambarkan dua cara yang belum dewasa dalam berelasi dengan Allah, yang sama-sama diatasi lewat belas kasihan.

Kepada siapa Yesus menceritakan perumpamaan ini?

Paus Fransiskus menjelaskan bahwa, menurut Lukas, Yesus menceritakannya bagi orang Farisi dan ahli Taurat yang bersungut-sungut karena Ia makan bersama orang berdosa. Anak sulung dalam cerita mewakili mereka.

Apakah anak sulung akhirnya masuk ke pesta?

Teks Lukas tidak mengatakannya. Menurut laporan Vatican News tentang homili Paus Fransiskus di Rabat tahun 2019, akhir yang terbuka ini dimaksudkan untuk dilengkapi setiap orang dan komunitas lewat cara hidup dan cara memperlakukan sesama.

Konteks & sumber

Alkitab Deuterokanonika: Luk 15:11-32

Luk 15:11-32

Kutipan Kitab Suci diambil dari Alkitab Deuterokanonika: Terjemahan Baru © Lembaga Alkitab Indonesia 1974, kitab Deuterokanonika © Lembaga Biblika Indonesia 1976.

Angelus, 14 March 2010

Diterbitkan di www.vatican.va

Dirujuk sebagai sumber Gereja; teks sumber tetap milik penerbitnya.

Catechesis prepared by the Holy Father for the General Audience of 16 April 2025 - Cycle of Catechesis

Diterbitkan di www.vatican.va

Dirujuk sebagai sumber Gereja; teks sumber tetap milik penerbitnya.

Pope at Mass: Jesus invites us to contemplate heart of the Father - Vatican News

Diterbitkan di www.vaticannews.va

Dirujuk sebagai sumber Gereja; teks sumber tetap milik penerbitnya.

Boleh disalin dan dibagikan dengan mencantumkan lightofsaints.com. Hak salin