Santo & Santavatican.vaDiperingati 29 Juni2 menit baca

Santo Petrus Rasul: Dari Penyangkalan Menjadi Batu Karang

Santo Petrus Rasul, nelayan yang pernah menyangkal Yesus karena takut, dijumpai kembali oleh Kristus yang bangkit dan menjadi batu karang Gereja karena rahmat.

Berkati orang lain dengan membagikan kisah ini.

Boleh disalin dan dibagikan dengan mencantumkan lightofsaints.com.

Bagikan
Ilustrasi gouache Santo Petrus sebagai nelayan dewasa yang duduk menunduk di atas batu di tepi danau, satu tangan di dada dan jala di lutut, dengan perahu nelayan di air di belakangnya.
Ilustrasi Santo Petrus Rasul

Simon sedang menebarkan jala bersama saudaranya, Andreas, ketika Yesus memanggil mereka di tepi danau, seperti diuraikan Kustodi Tanah Suci dari kisah Injil. Nelayan itu kelak bernama Petrus, dan Gereja menghormatinya sebagai Santo Petrus, salah satu Rasul. Jalannya tidak lurus: ia pernah menyangkal Gurunya karena takut, tetapi Kristus yang bangkit menjumpainya kembali, dan ia menjadi batu karang Gereja karena rahmat, bukan karena jasanya.

Ilustrasi Simon dan Andreas menebarkan jaring di danau Galilea saat Yesus memanggil mereka dari tepi pantai pada pagi hari.
Yesus memanggil Simon dan Andreas ketika mereka sedang menebarkan jala di tepi danau. · Ilustrasi

Murid yang diberi nama baru

Simon memilih pergi bersama Yesus. Yesus memberinya nama baru: Petrus, atau Kefas, yang berarti batu karang. Dalam katekese tentang para Rasul pada 24 Mei 2006, Paus Benediktus XVI menyebut dua tahap menentukan dalam hidupnya: panggilan di dekat Danau Galilea, disusul pengakuan imannya bahwa Yesus adalah Kristus.

Iman itu diuji ketika banyak murid pergi karena sulit menerima ajaran Yesus tentang memberikan diri-Nya. Petrus berbicara mewakili kedua belas murid: mereka tetap percaya kepada Yesus. Meski begitu, imannya masih berada di awal perjalanan. Kepenuhannya baru datang melalui peristiwa Paskah.

Jatuh karena rasa takut

Sebelum Paskah itu tiba, ada kegagalan. Petrus pernah menjanjikan kesetiaan mutlak kepada Yesus, tetapi ia menyerah pada rasa takut dan menyangkal Gurunya, seperti dikisahkan Injil Markus (bdk. Mrk 14:66-72). Janji besar itu runtuh, dan Petrus merasakan pahit serta malunya penyangkalan.

Petrus berdiri menunduk di halaman batu pada malam hari dekat api kecil, dengan gerbang kayu tertutup di belakangnya.
Karena takut, Petrus menyangkal Gurunya dan merasakan pahitnya kegagalan itu. · Ilustrasi

Kegagalan itu tidak menjadi akhir. Petrus menyadari kelemahan hatinya: ia orang beriman yang juga berdosa. Ia menangis dalam pertobatan yang membebaskan. Menurut Paus Benediktus XVI, sesudah tangisan itulah ia siap menerima perutusannya.

Dijumpai di tepi Danau Tiberias

Setelah kebangkitan-Nya, Kristus menjumpai Petrus di tepi Danau Tiberias dan bertanya tiga kali apakah Petrus mengasihi-Nya, seperti dicatat Injil Yohanes (Yoh 21:15-19). Petrus, yang sudah mengenal pahitnya ketidaksetiaan, menjawab dengan rendah hati. Ia menyatakan kasih sebatas yang ia mampu.

Petrus berdiri rendah hati di tepi Danau Tiberias saat Yesus yang bangkit berbicara kepadanya pada fajar hari.
Di tepi Danau Tiberias, Petrus menjawab pertanyaan Kristus yang bangkit dengan rendah hati. · Ilustrasi

Paus Benediktus XVI menafsirkan percakapan itu demikian: Yesus menyesuaikan diri dengan kasih Petrus yang terbatas, bukan menuntut Petrus langsung setara dengan-Nya, dan hal itu memberi Petrus harapan. Ia juga melihat dalam perjumpaan ini panggilan Petrus menjadi gembala Gereja universal, yaitu bagi seluruh umat beriman.

Sejak hari itu Petrus mengikuti Yesus dengan sadar bahwa dirinya rapuh. Kesadaran itu tidak membuatnya patah semangat, karena ia tahu dapat mengandalkan Tuhan yang bangkit, yang hadir di sisinya.

Saksi sampai akhir hidup

Perjalanan panjang itu menjadikan Petrus saksi yang dapat dipercaya dan batu karang Gereja, karena ia terus terbuka pada karya Roh Yesus. Kustodi Tanah Suci mencatat bahwa kelemahan Petrus justru memperjelas satu hal: ia menjadi yang pertama karena rahmat, bukan karena jasanya sendiri.

Dalam Surat Pertama Petrus, ia menyebut dirinya saksi penderitaan Kristus (1Ptr 5:1). Menurut Paus Benediktus XVI, ia menulis kata-kata itu ketika sudah tua, menjelang akhir hidup yang kelak dimeteraikan dengan kemartiran. Tempat dan cara kematiannya tidak disebut dalam sumber yang dipakai.

Petrus yang telah lanjut usia menulis pada perkamen kosong di meja kayu dengan cahaya lampu minyak kecil.
Saat sudah tua, Petrus menulis bahwa dirinya saksi penderitaan Kristus. · Ilustrasi

Sekilas

Diperingati
29 Juni
Nama asal
Simon, kemudian diberi nama Petrus (Kefas), yang berarti batu karang custodia.org
Pekerjaan
Nelayan, bersama saudaranya Andreas (menurut uraian Kustodi Tanah Suci yang merujuk Injil) custodia.org
Status Gereja
Santo, salah satu Rasul (disebut dalam audiensi umum Paus Benediktus XVI, 24 Mei 2006) vatican.va
Pemulihan
Dijumpai Kristus yang bangkit di tepi Danau Tiberias (Yoh 21:15-19) vatican.va
Akhir hidup
Dimeteraikan dengan kemartiran; tempat dan caranya tidak disebut dalam sumber yang dipakai vatican.va

Bawa kisah ini dalam doamu.

Konteks & sumber

Takhta Suci (vatican.va): General Audience of 24 May 2006: Peter, the Apostle

Audiensi Umum 24 Mei 2006, paragraf pembuka; Audiensi Umum 24 Mei 2006, bagian penggandaan roti; Audiensi Umum 24 Mei 2006, bagian khotbah di Kapernaum (Yoh 6); Audiensi Umum 24 Mei 2006, setelah pengakuan Petrus; Audiensi Umum 24 Mei 2006, bagian kelemahan Petrus; Audiensi Umum 24 Mei 2006, bagian perjumpaan dengan Kristus yang bangkit; Audiensi Umum 24 Mei 2006, bagian dialog Yoh 21; Audiensi Umum 24 Mei 2006, setelah Yoh 21:19; Audiensi Umum 24 Mei 2006, bagian penutup katekese

Official holy-see source from vatican.va, supplied in the approved brief. Situs resmi Takhta Suci; parafrase dan tautan, kutipan sesuai batas. Research snapshot; rights and final paraphrase require human review.

Custodia di Terra Santa (Custody of the Holy Land, Order of Friars Minor): Capernaum - Custodia di Terra Santa

Bagian The Village, paragraf tentang pekerjaan sehari-hari; Bagian The Lakeside; Bagian The Apostle Peter

Official shrine source from custodia.org, supplied in the approved brief. Research snapshot; rights and final paraphrase require human review.

Boleh disalin dan dibagikan dengan mencantumkan lightofsaints.com. Hak salin