Syahadat Nicea-Konstantinopel

Doa tradisi Gereja. · Konferensi Waligereja Indonesia (KWI)

Berkati orang lain dengan membagikan doa ini.

Boleh disalin dan dibagikan dengan mencantumkan lightofsaints.com.

Bagikan

Syahadat Nicea-Konstantinopel

Aku percaya akan satu Allah,

Bapa yang Mahakuasa,

Pencipta langit dan bumi,

dan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan.

Dan akan satu Tuhan, Yesus Kristus,

Putra Allah yang tunggal.

Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad.

Allah dari Allah, Terang dari Terang,

Allah benar dari Allah benar.

Ia dilahirkan, bukan dijadikan,

sehakikat dengan Bapa;

segala sesuatu dijadikan oleh-Nya.

Ia turun dari surga untuk kita manusia

dan untuk keselamatan kita.

Ia dikandung dari Roh Kudus,

dilahirkan oleh Perawan Maria

dan menjadi manusia.

Ia pun disalibkan untuk kita,

waktu Pontius Pilatus.

Ia menderita sampai wafat,

dan di makamkan.

Pada hari ketiga, Ia bangkit,

menurut Kitab Suci.

Ia naik ke surga,

duduk di sisi Bapa.

Ia akan kembali dengan mulia,

mengadili orang yang hidup dan yang mati;

kerajaan-Nya takkan berakhir.

Aku percaya akan Roh Kudus,

Ia Tuhan yang Menghidupkan,

Ia berasal dari Bapa dan Putra.

Yang serta Bapa dan Putra

disembah dan dimuliakan;

Ia bersabda dengan perantaraan para nabi.

Aku percaya akan Gereja yang Satu,

Kudus, Katolik, dan Apostolik.

Aku mengakui satu pembaptisan

akan penghapusan dosa.

Aku menantikan kebangkitan orang

mati dan hidup di akhirat.

Amin.

Teks Latin

Symbolum Nicaeno-Constantinopolitanum

Credo in unum Deum,

Patrem omnipoténtem,

Factorem cæli et terræ,

visibílium ómnium et invisibilium

Et in unum Dóminum Iesum

Christum,

Filium Dei unigénitum

et ex Patre natum

ante ómnia sǽcula:

Deum de Deo, Lumen de Lúmine,

Deum verum de Deo vero,

génitum, non factum, consubstantiálem Patri: per quem ómnia

facta sunt;

qui propter nos hómines

et propter nostram salútem,

descéndit de cælis, et incarnátus est

de Spíritu Sancto ex Maria Víirgine

et homo factus est, crucifíxus étiam

pro nobis sub Póntio Piláto, passus

et sepúltus est, et resurréxit tértia

die secúndum Scriptúras,

et ascéndit in cælum, sedet ad

déxteram Patris, et íterum ventúrus

est cum glória, iudicáre vivos et

mórtuos, cuius regni non erit finis.

Credo in Spíritum Sanctum, Dominum et vivificántem, qui ex Patre

Filióque procédit, qui cum Patre et

Fílio simul adorátur et conglorificátur, qui locútus est per prophétas.

Et unam sanctam cathólicam

et apostólicam Ecclésiam.

Confíteor unum Baptísma

in remissiónem peccatórum.

Et exspécto resurrectiónem mortuórum,

et vitam ventúri sæculi.

Amen.

Makna singkat

Syahadat ini mengakui iman akan satu Allah: Bapa Pencipta, Putra yang sehakikat dengan Bapa dan menjadi manusia demi keselamatan kita, serta Roh Kudus yang disembah dan dimuliakan bersama Bapa dan Putra. Pengakuan ini juga mencakup Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik, serta penantian akan kebangkitan orang mati dan hidup di akhirat.

Ujud & harapan

Umat mendoakannya untuk meneguhkan dan memperbarui iman, terutama ketika iman terasa goyah atau ketika ingin bersatu dengan seluruh Gereja. Kita boleh berharap agar Roh Kudus menolong kita memahami dan menghidupi apa yang kita ucapkan.

Kapan & cara berdoa

  1. Dalam Misa hari Minggu dan hari raya, syahadat diucapkan bersama sesudah homili dan sebelum Doa Umat.
  2. Seluruh umat berdiri sebagai tanda pengakuan iman bersama.
  3. Pada kata-kata tentang Yesus yang dikandung dari Roh Kudus dan menjadi manusia, umat lazimnya menundukkan kepala atau membungkuk.
  4. Di luar Misa, syahadat ini dapat didoakan pribadi dengan tenang, misalnya pada pagi hari, sambil merenungkan satu bagian setiap kali.

Asal-usul

Sejarah

Konsili Nicea I (325), yang diselenggarakan Kaisar Konstantinus, mengakui Putra sehakikat (homoousios) dengan Bapa melawan ajaran Arius dan menghasilkan bentuk pertama syahadat dalam bahasa Yunani. Konsili Konstantinopel I (381), yang diselenggarakan Kaisar Theodosius I bersama sekitar 150 uskup, meneguhkan iman Nicea dan melengkapi syahadat, terutama tentang Roh Kudus. Katekismus (no. 195) menyebut syahadat ini berwibawa besar berkat dua konsili tersebut dan tetap menjadi milik bersama Gereja-Gereja besar di Timur dan Barat. [5][4][3]

Rumusan persis syahadat tahun 325 dan 381 baru tercatat dalam dokumen yang masih ada pada Konsili Kalsedon (451). Di sana syahadat "150 bapa konsili" dibacakan bersama syahadat Nicea sebagai patokan iman. Karena itu para ahli masih membahas hubungan teks Konstantinopel dengan syahadat 325; pandangan tradisional, yang didukung Kalsedon sendiri, ialah bahwa teks 381 selaras dengan iman Nicea. [6]

Bentuk Latin (Barat) berbeda dari teks Yunani 381: ditambahkan "Deum de Deo" dan "Filioque" ("dan Putra"). Filioque disisipkan oleh Konsili Toledo III di Spanyol pada akhir abad ke-6 untuk melawan Arianisme, lalu penggunaannya menyebar di Gereja Franka pada abad ke-8. Gereja-Gereja Timur berkeberatan atas sisipan ini, sedangkan Katekismus (no. 246) mengakui tradisi Latin tentang Roh Kudus yang berasal dari Bapa dan Putra. [6][4]

Syahadat ini mula-mula tidak ditulis untuk Misa, melainkan sebagai patokan iman. Ia masuk ke liturgi Latin melalui istana Karel Agung pada akhir abad ke-8 dan menyebar di wilayah Franka, tetapi belum di Roma. Pada tahun 1014, atas permintaan Raja Heinrich II yang datang ke Roma untuk dimahkotai sebagai kaisar, Paus Benediktus VIII untuk pertama kalinya menyuruh syahadat (dengan Filioque) dinyanyikan dalam Misa di Roma. Sejak itu syahadat menjadi bagian Misa Romawi pada hari Minggu dan hari raya. [6][7]

Tradisi · Menurut tradisi, sebelum tahun 1014 Gereja Roma memakai syahadat tanpa Filioque. Paus Leo III (795–816) dikisahkan menolak sisipan itu dan konon menyuruh syahadat dalam bahasa Latin dan Yunani, tanpa tambahan tersebut, dipasang pada perisai perak di Basilika Santo Petrus. [7]

Sumber & versi

Teks: Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Diperiksa kata demi kata terhadap sumber pada 2026-11-05.

  1. Syahadat Nikea-Konstantinopel - Katekese Indonesia

    Teks diambil dari katekese.id

    Teks doa © Konferensi Waligereja Indonesia (KWI); dikutip dengan atribusi dan tautan (keputusan pemilik K2, ADR 0067).

  2. Compendium of the Catechism of the Catholic Church

    Teks Latin dari www.vatican.va

    Teks Latin dikutip dengan atribusi dan tautan.

  3. Catechism of the Catholic Church - Paragraph # 195

    Diterbitkan St. Charles Borromeo (hosting the CCC text)

    Dirujuk sebagai sumber fakta; teks sumber tetap milik penerbitnya.

  4. The Catechism of the Catholic Church, numbers 185 to 278

    Diterbitkan Catholic Doors (hosting the CCC text)

    Dirujuk sebagai sumber fakta; teks sumber tetap milik penerbitnya.

  5. Nicene Creed

    Diterbitkan EBSCO Research Starters

    Dirujuk sebagai sumber fakta; teks sumber tetap milik penerbitnya.

  6. Filioque

    Diterbitkan Wikipedia

    Dirujuk sebagai sumber fakta; teks sumber tetap milik penerbitnya.

  7. Philip Schaff: NPNF2-14. The Seven Ecumenical Councils

    Diterbitkan Christian Classics Ethereal Library

    Dirujuk sebagai sumber fakta; teks sumber tetap milik penerbitnya.

Boleh disalin dan dibagikan dengan mencantumkan lightofsaints.com. Hak salin