Santo & Santapress.vatican.vaDiperingati 21 Juni2 menit baca

Santo Aloysius Gonzaga: Melepaskan Warisan, Melayani Korban Wabah

Kisah Santo Aloysius Gonzaga, pewaris keluarga bangsawan yang melepaskan warisannya untuk menjadi Yesuit, lalu wafat muda setelah merawat para penderita wabah.

Ilustrasi: Aloysius Gonzaga berjubah gelap menggendong seorang pria sakit menuju pintu rumah sakit di jalan kota Italia.
Ilustrasi Santo Aloysius Gonzaga

Aloysius Gonzaga, yang juga dikenal dengan nama Luigi, adalah putra sulung Markis Castiglione dan pewaris gelar keluarga yang berkuasa. Jalan hidupnya seolah sudah ditentukan. Namun sejak sekitar usia tujuh tahun, ia justru tertarik pada doa dan menjauh dari gaya hidup istana di sekelilingnya. Rincian kisah hidupnya terutama dikenal dari catatan Serikat Yesus, tarekat religius yang kelak ia masuki.

Doa menjadi bagian dari hari-harinya. Ia mengikuti Misa setiap hari, menerima komuni setiap minggu, dan berpuasa tiga hari dalam seminggu. Ketika kedudukannya di lingkungan istana kerajaan makin tinggi, keinginannya malah bergerak ke arah lain: ia ingin menjadi Yesuit, anggota Serikat Yesus. Sebuah pengalaman doa pada 15 Agustus 1583 meneguhkan keputusan itu.

Ilustrasi: Aloysius Gonzaga berlutut berdoa di kapel batu yang diterangi satu lilin.
Doa menjadi bagian dari hari-hari Aloysius, juga di tengah kehidupan istana. · Ilustrasi

Keputusan itu tidak mudah diterima keluarganya. Ayahnya sangat marah karena sang pewaris ingin melepaskan semua yang telah dipersiapkan baginya dengan cermat. Namun tekad Aloysius terbukti lebih kuat. Akhirnya sang ayah memberi izin.

Pada November 1585, Aloysius menyerahkan hak warisnya kepada adiknya, Rudolph, lalu berangkat ke Roma. Di sana ia menghadap Claudio Acquaviva, Superior Jenderal atau pemimpin tertinggi Serikat Yesus, yang menerimanya di novisiat Sant'Andrea, tempat pembinaan awal bagi calon Yesuit. Berabad-abad kemudian, Paus Fransiskus memuji kemampuan Aloysius mengambil keputusan penting bagi hidupnya tanpa terseret ambisi karier dan pemujaan uang. Menurut Paus, kebebasan seperti itu perlu dirawat lewat hidup batin: doa, belajar, dan mendengarkan hati nurani.

Ilustrasi: Aloysius Gonzaga memegang topinya saat menghadap pemimpin Yesuit di ruangan sederhana yang diterangi jendela.
Di Roma, Aloysius diterima oleh Claudio Acquaviva di novisiat Sant'Andrea. · Ilustrasi

Ketika wabah dan kelaparan melanda Italia, Aloysius ikut terjun merawat para korban. Demi orang-orang sakit, ia tidak segan meminta sedekah. Orang-orang yang ia temukan di jalan ia angkat dan bawa sendiri ke rumah sakit. Di sana ia membersihkan tubuh mereka, memberi mereka makan, dan membantu mereka bersiap menerima sakramen.

Banyak Yesuit muda ikut jatuh sakit dalam masa wabah itu. Aloysius sendiri tertular ketika merawat seorang pria yang terkena wabah; catatan tarekat hanya meringkas bagian ini tanpa merinci urutan kejadiannya. Ia tahu ajalnya sudah dekat dan meminta komuni. Ia wafat pada usia 23 tahun. Paus Fransiskus kelak menyebutnya teladan karena ia wafat setelah menyerahkan diri habis-habisan untuk melayani para penderita wabah, orang-orang yang dipinggirkan dan dibuang oleh masyarakat.

Ilustrasi: Aloysius Gonzaga berbaring tenang sementara seorang imam membawa wadah komuni di samping tempat tidurnya.
Menyadari ajalnya dekat, Aloysius meminta komuni; ia wafat pada usia 23 tahun. · Ilustrasi

Gereja menghormati Aloysius Gonzaga sebagai santo. Pada 13 Juni 1926, Paus Pius XI mengeluarkan Surat Apostolik Singulare Illud tentang dirinya sebagai Pelindung Kaum Muda Katolik. Paus Fransiskus menyebut salah satu ciri khasnya adalah kemampuan mengasihi dengan hati yang murni dan bebas.

Status Gereja
Santo, disebut sebagai pelindung kaum muda
Asal keluarga
Putra sulung Markis Castiglione dan pewaris gelar keluarga (menurut Serikat Yesus)
Melepaskan warisan
November 1585, kepada adiknya, Rudolph, lalu berangkat ke Roma dan diterima di novisiat Sant'Andrea (menurut Serikat Yesus)
Usia saat wafat
23 tahun, setelah tertular wabah ketika merawat orang sakit (menurut Serikat Yesus)
Tempat jenazah
Gereja Santo Ignatius, Roma
Pelindung Kaum Muda Katolik
Surat Apostolik Singulare Illud oleh Paus Pius XI, 13 Juni 1926

Bawa kisah ini dalam doamu.

Konteks & sumber

Takhta Suci (vatican.va): The Pope praises Saint Aloysius Gonzaga in audience with the students of Visconti High School

Buletin Kantor Pers Takhta Suci 13.04.2019, paragraf tentang tiga aspek hidup Aloysius; Buletin Kantor Pers Takhta Suci 13.04.2019, aspek pertama; Buletin Kantor Pers Takhta Suci 13.04.2019, aspek pertama (lanjutan); Buletin Kantor Pers Takhta Suci 13.04.2019, aspek kedua; Buletin Kantor Pers Takhta Suci 13.04.2019, tentang kasih dalam solidaritas; Buletin Kantor Pers Takhta Suci 13.04.2019, paragraf pembuka

Official holy-see source from vatican.va, supplied in the approved brief. Situs resmi Takhta Suci; parafrase dan tautan, kutipan sesuai batas. Research snapshot; rights and final paraphrase require human review.

Takhta Suci (vatican.va): Apostolic Letters

Indeks Surat Apostolik Pius XI, entri Juni 1926

Official holy-see source from vatican.va, supplied in the approved brief. Situs resmi Takhta Suci; parafrase dan tautan, kutipan sesuai batas. Research snapshot; rights and final paraphrase require human review.

The Society of Jesus - Jesuits Global: Saint Aloysius Gonzaga - The Society of Jesus

Profil Jesuits Global, paragraf pembuka; Profil Jesuits Global, paragraf masa kecil; Profil Jesuits Global, paragraf Mantua; Profil Jesuits Global, paragraf Madrid; Profil Jesuits Global, paragraf izin ayah; Profil Jesuits Global, paragraf masuk novisiat; Profil Jesuits Global, paragraf wabah; Profil Jesuits Global, paragraf wafat

Official religious-order source from jesuits.global, supplied in the approved brief. Research snapshot; rights and final paraphrase require human review.

Boleh disalin dan dibagikan. Cantumkan lightofsaints.com. Hak salin