Aku Percaya (Syahadat Para Rasul)

Doa tradisi Gereja; teks Puji Syukur no. 1, hal. 1 (the page labels it "Ps no 1 hal 1"). · Konferensi Waligereja Indonesia (KWI)

Berkati orang lain dengan membagikan doa ini.

Boleh disalin dan dibagikan dengan mencantumkan lightofsaints.com.

Bagikan

Syahadat Para Rasul

Aku percaya akan Allah,

Bapa yang mahakuasa,

Pencipta langit dan bumi;

Dan akan Yesus Kristus,

Putra-Nya yang tunggal, Tuhan kita,

Yang dikandung dari Roh Kudus,

Dilahirkan oleh Perawan Maria;

Yang menderita sengsara

Dalam pemerintahan Pontius Pilatus

Disalibkan, wafat, dan dimakamkan;

yang turun ke tempat penantian

pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati;

yang naik ke surga,

duduk disebelah kanan Allah Bapa

yang mahakuasa;

dari situ Ia akan datang mengadili orang yang hidup dan yang mati.

Aku percaya akan Roh Kudus,

Gereja katolik yang kudus,

persekutuan para kudus,

pengampunan dosa,

kebangkitan badan,

kehidupan kekal.

Amin.

Teks Latin

Symbolum Apostolicum

Credo in Deum

Patrem omnipotentem,

Creatorem caeli et terrae,

et in Iesum Christum, Filium Eius

unicum,

Dominum nostrum,

qui conceptus est de Spiritu Sancto,

natus ex Maria Virgine,

passus sub Pontio Pilato,

crucifixus, mortuus,

et sepultus,

descendit ad inferos,

tertia die resurrexit a mortuis,

ascendit ad caelos,

sedet ad dexteram Patris

omnipotentis,

inde venturus est iudicare vivos et

mortuos.

Credo in Spiritum Sanctum,

sanctam Ecclesiam catholicam,

sanctorum communionem,

remissionem peccatorum,

carnis resurrectionem,

vitam aeternam.

Amen

Makna singkat

Syahadat ini mengakui iman akan Allah Bapa Pencipta, Yesus Kristus yang wafat dan bangkit, dan Roh Kudus yang berkarya dalam Gereja. Susunannya yang terbagi tiga mengikuti perintah Yesus untuk membaptis "dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus" (Mat 28:19).

Ujud & harapan

Umat mendoakannya untuk menyatakan dan meneguhkan iman pribadi, terutama ketika iman terasa goyah. Doa ini juga mengingatkan akan janji baptis dan menyatukan pendoa dengan iman Gereja sepanjang zaman.

Kapan & cara berdoa

  1. Awali dengan Tanda Salib dan tenangkan diri sejenak.
  2. Ucapkan dengan perlahan, sebagai pengakuan pribadi, baik sambil berdiri maupun berlutut.
  3. Doakan pada pagi atau malam hari sebagai bagian dari doa harian.
  4. Dalam Rosario, doa ini menjadi doa pembuka sebelum Bapa Kami dan tiga Salam Maria.
  5. Dalam Misa, Syahadat Para Rasul dapat dipakai sebagai pengganti Syahadat Nicea-Konstantinopel.
  6. Untuk renungan, ambil satu bagian (tentang Bapa, Putra, atau Roh Kudus) dan renungkan artinya.

Asal-usul

Sejarah

Syahadat ini tumbuh dari pengakuan iman saat pembaptisan. Leluhurnya yang lebih pendek, Syahadat Roma Kuno, berkembang dari rumusan sederhana tentang Tritunggal yang berakar pada Matius 28:19. Sebagian ahli berpendapat bahwa rumusan tertulisnya sudah ada pada akhir abad ke-2, tetapi ahli lain meragukan penanggalan sedini itu. [5][6]

Bentuk Roma Kuno terlestarikan dalam bahasa Yunani di sepucuk surat Marselus dari Ankira (sekitar 340), dan dalam bahasa Latin di dalam tafsiran Rufinus dari Aquileia (sekitar 390–404), yang membandingkan syahadat Roma dengan syahadat Gereja Aquileia, gerejanya sendiri. Nama "Syahadat Para Rasul" (Symbolum Apostolorum) pertama kali muncul dalam surat Sinode Milano tahun 390, yang masih mengacu pada Syahadat Roma Kuno, belum pada teks akhirnya. [4][5][6]

Syahadat Roma Kuno tetap menjadi syahadat liturgi baku Gereja Roma dari abad ke-4 hingga ke-7; syahadat serupa di Milano dan Galia hanya sedikit berbeda. Teks yang lebih lengkap, yang dipakai sekarang, pertama kali dikutip dalam Scarapsus karya Pirminius dari Reichenau (ditulis antara 710 dan 724). Teks ini menambahkan antara lain "turun ke tempat penantian", "persekutuan para kudus", dan "kehidupan kekal", dan kemungkinan berasal dari Galia selatan atau Spanyol, bukan dari Roma. [4][5]

Cukup awal Syahadat ini masuk ke dalam Ibadat Harian. Fruktuosus dari Braga (wafat 665) menempatkannya dalam Ibadat Penutup. Benediktus dari Aniane (wafat 821) dan Amalarius dari Metz meminta agar Syahadat diucapkan sebelum Matina dan Prima serta sesudah Ibadat Penutup. [4]

Tradisi · Katekismus Gereja Katolik (no. 194 dan 196) menjelaskan bahwa Syahadat ini disebut "para Rasul" karena merupakan ringkasan setia dari iman para rasul. Katekismus menyebutnya simbol baptis kuno Gereja Roma dan "katekismus Roma tertua", serta memakainya sebagai pedoman dalam menguraikan iman. Katekismus (no. 191) juga menyebut kebiasaan kuno, yang disaksikan Santo Ambrosius, untuk menghitung dua belas pokok iman sebagai lambang kepenuhan iman para rasul. [3]

Sumber & versi

Teks: Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Puji Syukur no. 1, hal. 1 (the page labels it "Ps no 1 hal 1"). Diperiksa kata demi kata terhadap sumber pada 2026-11-05.

  1. Puji Syukur no. 1, hal. 1 (the page labels it "Ps no 1 hal 1") — Aku Percaya

    Teks mengikuti Puji Syukur no. 1, hal. 1 (the page labels it "Ps no 1 hal 1"); diambil dari standreaskedoya.or.id

    Teks doa © Konferensi Waligereja Indonesia (KWI); dikutip dengan atribusi dan tautan (keputusan pemilik K2, ADR 0067).

  2. Catechismus Catholicae Ecclesiae - Credimus

    Teks Latin dari www.vatican.va

    Teks Latin dikutip dengan atribusi dan tautan.

  3. Catechism of the Catholic Church, Part One, Section Two: The Creeds (nos. 189–197)

    Diterbitkan Vatican (Libreria Editrice Vaticana)

    Dirujuk sebagai sumber fakta; teks sumber tetap milik penerbitnya.

  4. Apostles' Creed

    Diterbitkan Encyclopedia.com (New Catholic Encyclopedia)

    Dirujuk sebagai sumber fakta; teks sumber tetap milik penerbitnya.

  5. Apostles' Creed

    Diterbitkan Wikipedia

    Dirujuk sebagai sumber fakta; teks sumber tetap milik penerbitnya.

  6. Apostles' Creed

    Diterbitkan BiblicalTraining

    Dirujuk sebagai sumber fakta; teks sumber tetap milik penerbitnya.

Boleh disalin dan dibagikan dengan mencantumkan lightofsaints.com. Hak salin