Santo & Santapress.vatican.vaDiperingati 5 September2 menit baca

Santa Teresa dari Kalkuta: Setia Melayani di Tengah Kegelapan Batin

Kisah Santa Teresa dari Kalkuta (Bunda Teresa): seruan Yesus di salib bahwa Ia haus menggerakkan pelayanannya kepada orang termiskin, dan ia tetap setia berdoa selama bertahun-tahun kegelapan batin.

Ilustrasi bergaya gouache seorang biarawati lanjut usia berbusana putih bergaris biru, berlutut sendirian di atas tikar dengan kepala tertunduk dan kedua tangan terkatup di depan dada. Ia menghadap tabernakel tertutup berwarna cokelat pada altar sederhana. Lampu merah menggantung di kanan, cahaya siang masuk dari jendela kiri, dan vas bunga putih terletak di samping altar.
Ilustrasi Santa Teresa dari Kalkuta

Di kayu salib, Yesus berseru bahwa Ia haus. Injil Yohanes mencatat seruan pendek itu (Yoh 19:28). Bagi Teresa dari Kalkuta, yang banyak orang kenal sebagai Bunda Teresa, seruan ini bukan sekadar bagian kisah sengsara. Menurut dekret Vatikan dan homili beatifikasinya, seruan itu menyentuh jiwanya sampai ke kedalaman dan berakar kuat di hatinya.

Homili beatifikasi membaca seruan itu sebagai ungkapan kerinduan Allah akan manusia. Teresa menanggapinya dengan seluruh hidup. Sumber-sumber Gereja menyebut bahwa tujuan hidupnya adalah memuaskan dahaga Kristus akan kasih dan akan jiwa-jiwa. Kedua sumber itu tidak menceritakan kapan, di mana, atau bagaimana pengalaman ini terjadi. Yang mereka tekankan adalah arah hidup yang lahir darinya.

Arah itu membawanya kepada orang-orang paling miskin. Menurut homili beatifikasi, ia memilih bukan hanya menjadi yang terkecil, melainkan menjadi pelayan bagi yang terkecil. Ia membungkuk kepada orang-orang yang menderita berbagai bentuk kemiskinan, seperti seorang ibu bagi mereka. Paus Yohanes Paulus II menyebutnya pendiri Misionaris Cinta Kasih.

Ilustrasi: Teresa dari Kalkuta membungkuk lembut untuk meletakkan tangan di bahu seorang lansia yang duduk di tepi jalan sederhana; cahaya fajar menyinari keduanya dari samping.
Ia memilih menjadi pelayan bagi yang terkecil dan membungkuk kepada mereka. · Ilustrasi

Pelayanan itu berakar pada Injil Matius 25:40, tempat Yesus menyatakan bahwa apa yang dilakukan bagi saudara-Nya yang paling hina dilakukan bagi Dia sendiri. Dari situ lahir keyakinannya: ketika menyentuh tubuh orang miskin yang terluka, ia menyentuh tubuh Kristus. Karena itu, doa dan karya tidak terpisah dalam hidupnya. Ia memberikan diri seutuhnya kepada orang miskin sambil tetap hidup dalam doa.

Namun, kisahnya tidak berhenti pada karya yang tampak. Selama bertahun-tahun Teresa mengalami apa yang disebut homili sebagai kegelapan batin, sebuah ujian iman yang kadang sangat menyiksa.

Sebagian pengalaman ini diketahui lewat kesaksiannya sendiri. Pada tahun 1960 ia menulis surat kepada Pater Joseph Neuner dan membuka isi jiwanya. Menurut ringkasan Kardinal Arthur Roche, dalam surat itu ia mengungkapkan kegelapan karena merasakan Allah tidak hadir, yang sudah ia jalani bertahun-tahun. Meski begitu, ia mempersembahkan ujian itu kepada Allah dengan sukacita, supaya banyak jiwa diterangi.

Ilustrasi: Teresa dari Kalkuta duduk menulis surat pada kertas kosong di meja kayu sederhana; sebuah lampu minyak menerangi tangannya dan wajahnya yang tertunduk.
Pada tahun 1960 ia menulis surat dan membuka isi jiwanya kepada Pater Joseph Neuner. · Ilustrasi

Homili beatifikasi menafsirkan masa gelap itu sebagai cara khusus Teresa ikut ambil bagian dalam sengsara Kristus yang tersalib. Ia sendiri menerimanya sebagai karunia dan hak istimewa yang langka. Pada saat-saat paling gelap, ia justru makin tekun berdoa di hadapan Sakramen Mahakudus, yaitu Ekaristi yang disimpan di gereja atau kapel. Seperti pemazmur, ia sering berseru bahwa ia tetap berharap kepada Tuhan.

Masa gelap itu tidak menjauhkannya dari sesama. Menurut homili, ujian berat itu membuatnya makin menyatu dengan orang-orang yang ia layani setiap hari. Ia ikut merasakan sakit mereka, bahkan kadang penolakan yang mereka alami. Ia sering mengatakan bahwa kemiskinan terbesar adalah tidak diinginkan dan tidak memiliki siapa pun yang peduli.

Ilustrasi: Teresa dari Kalkuta duduk di samping seorang lansia yang beristirahat di ranjang sederhana sambil menggenggam tangannya di ruangan yang diterangi cahaya jendela.
Ujian batinnya membuatnya makin menyatu dengan orang-orang yang ia layani setiap hari. · Ilustrasi

Pada 19 Oktober 2003, Paus Yohanes Paulus II membeatifikasinya. Paus Fransiskus kemudian mengkanonisasinya sebagai santa; ritus kanonisasi berlangsung dalam Misa pada 4 September 2016. Kini namanya tercantum dalam Kalender Romawi Umum dengan peringatan fakultatif setiap 5 September.

Dikenal sebagai
Pendiri Misionaris Cinta Kasih (Missionaries of Charity)
Beatifikasi
19 Oktober 2003 oleh Paus Yohanes Paulus II
Kanonisasi
Oleh Paus Fransiskus dalam Misa pada 4 September 2016
Peringatan
5 September, peringatan fakultatif dalam Kalender Romawi Umum

Bawa kisah ini dalam doamu.

Konteks & sumber

Dokumen resmi Vatican 1

Dekret, paragraf ketiga; Komentar Kardinal Arthur Roche, paragraf ketiga; Dekret, paragraf keempat; Dekret, paragraf kedua; Komentar Kardinal Arthur Roche, paragraf kelima (Ibadat Harian)

Official Vatican URL supplied in approved brief. Research snapshot; rights and final paraphrase require human review.

Dokumen resmi Vatican 2

Homili beatifikasi, 19 Oktober 2003, no. 1; Homili beatifikasi, no. 3; Homili beatifikasi, no. 4; Homili beatifikasi, no. 2; Homili beatifikasi, no. 5; Homili beatifikasi, no. 6

Official Vatican URL supplied in approved brief. Research snapshot; rights and final paraphrase require human review.

Boleh disalin dan dibagikan. Cantumkan lightofsaints.com. Hak salin