Santo & Santavatican.vaDiperingati 1 Oktober3 menit baca

Santa Theresia dari Lisieux: Jalan Kecil di Tengah Kegelapan Iman

Kisah Santa Theresia dari Lisieux, biarawati Karmel yang menemukan jalan kecil dan tetap berpegang pada Yesus ketika penyakit serta kegelapan iman menyertainya hingga wafat pada usia dua puluh empat tahun.

Seorang biarawati muda berkerudung hitam dan berjubah cokelat duduk di meja kayu dekat jendela. Pandangannya tertuju pada buku catatan kosong; satu tangan memegang pena di atas halaman dan tangan lainnya menahan buku. Cahaya jendela menyinari sebagian wajah dan tangannya. Sebuah wadah tinta berada di sudut meja.
Ilustrasi Santa Theresia dari Lisieux

Dalam ziarah ke Roma pada 1887, seorang gadis Prancis bernama Theresia bertemu Paus Leo XIII. Ia memohon izin agar boleh masuk biara Karmel pada usia lima belas tahun. Pada 9 April 1888, ia masuk Karmel Lisieux. Hidupnya hanya berlangsung dua puluh empat tahun dan, menurut Paus Fransiskus, sepenuhnya biasa. Bagaimana hidup sesederhana itu bisa menjadi jalan kekudusan?

Ilustrasi: Theresia muda berlutut dengan kedua tangan terkatup di hadapan Paus Leo XIII yang duduk, diterangi cahaya jendela di sebuah ruangan berdinding batu.
Di Roma pada 1887, Theresia memohon kepada Paus Leo XIII agar boleh masuk Karmel. · Ilustrasi

Di Karmel, Theresia sangat diuji oleh sakit ayahnya, Louis Martin. Di biara itu pula ia menemukan apa yang kemudian dikenal sebagai jalan kecil, lalu mengajarkannya kepada para novis, calon suster yang dibimbingnya. Ia menceritakan penemuan itu dalam Kisah Suatu Jiwa. Paus Fransiskus melukiskannya begini: Theresia tahu dirinya kecil dan tak mampu mengandalkan diri, tetapi ia bersandar teguh pada kuasa kasih Tuhan. Gereja menyebutnya jalan kepercayaan dan kasih, atau jalan kanak-kanak rohani, yang terbuka bagi setiap orang yang berserah pada rahmat Tuhan.

Theresia sendiri menuliskan satu contohnya. Pada suatu malam musim dingin, ia menjalankan tugas kecilnya: memapah seorang suster yang sakit. Dari kejauhan terdengar musik, dan ia membayangkan pesta yang meriah. Di dekatnya hanya ada keluhan suster itu dan dinding bata biara yang remang. Namun, ia bersaksi bahwa Tuhan menerangi jiwanya; baginya, sepuluh menit melayani dengan kasih lebih berharga daripada seribu tahun pesta duniawi.

Ilustrasi: Theresia dalam busana Karmel memapah seorang suster lanjut usia yang menggunakan tongkat di lorong biara, diterangi satu lampu minyak di dinding.
Dalam tugas kecil malam itu, Theresia menemani seorang suster yang sakit. · Ilustrasi

Sekitar Paskah 1896, muncul tanda pertama penyakit yang kelak membawanya pada kematian. Sumber Gereja yang dipakai di sini tidak menyebut nama penyakitnya, tetapi mencatat bahwa kesehatannya terus memburuk hingga pada 8 Juli 1897 ia dipindahkan ke ruang perawatan biara. Menurut Yohanes Paulus II, Theresia menyambut penyakit itu sebagai kunjungan penuh misteri dari Mempelai ilahinya.

Pada masa yang sama, mulailah pencobaan iman yang berlangsung sampai ia wafat. Dalam bagian terakhir Kisah Suatu Jiwa, yang ditulis beberapa bulan sebelum wafatnya, ia mengisahkan bahwa Yesus membiarkan jiwanya diliputi kegelapan yang amat pekat. Paus Fransiskus menjelaskan bahwa Theresia mengaitkan kegelapan itu dengan ateisme pada zamannya, sehingga ia ikut merasakan keputusasaan dan kekosongan di balik penolakan iman. Ia mengaku, saat menyanyikan kebahagiaan surga, ia tidak merasakan sukacita; ia hanya menyanyikan apa yang ingin ia percayai.

Namun, kepercayaan itu tidak ia lepaskan. Ia menulis bahwa di tengah kegelapan ia berlari kepada Yesus dan menyatakan siap menumpahkan seluruh darahnya demi mengakui iman akan surga. Ia bahkan rela tidak mengecap sukacita surga selama di dunia, asalkan Yesus membukakannya bagi orang-orang yang tidak percaya. Menurut Paus Fransiskus, ia terus mendoakan mereka sambil berulang kali memperbarui tindakan imannya sendiri. Pada akhir hidupnya, ia juga menuliskan Syahadat Para Rasul dengan darahnya sendiri.

Penderitaannya makin berat, tetapi ditanggungnya dengan sabar. Para suster mencatat perkataannya pada masa itu: orang yang menempuh jalan kasih tidak perlu memikirkan penderitaan yang belum datang, sebab kecemasan seperti itu tanda kurang percaya. Kepada Pater Bellière ia menulis bahwa ia bukan sedang mati, melainkan memasuki hidup. Theresia wafat pada sore hari 30 September 1897; menurut sumber Gereja, kata-kata terakhirnya adalah pernyataan kasih kepada Allah.

Ilustrasi: Theresia bersandar pada bantal di tempat tidur sederhana, kedua tangan terlipat di atas selimut, memandang jendela yang memasukkan cahaya sore.
Penderitaannya makin berat, tetapi ia menanggungnya dengan sabar hingga sore hari wafatnya. · Ilustrasi

Pada 17 Mei 1925, Paus Pius XI menyatakannya santa. Pada 1997, Yohanes Paulus II menggelarinya Pujangga Gereja, yang termuda di antara semuanya, dan menilai perpaduan ajaran serta pengalaman hidupnya sebagai teladan yang menarik, terutama bagi kaum muda dan siapa pun yang mencari makna hidup.

Lahir
2 Januari 1873 di Alençon, Prancis
Masuk Karmel Lisieux
9 April 1888
Ayah
Louis Martin, wafat 29 Juli 1894
Pindah ke ruang perawatan biara
8 Juli 1897
Wafat
Sore hari, 30 September 1897
Kanonisasi
17 Mei 1925 oleh Paus Pius XI di Basilika Santo Petrus
Pujangga Gereja
Dinyatakan oleh Paus Yohanes Paulus II pada 1997

Bawa kisah ini dalam doamu.

Konteks & sumber

Dokumen resmi Vatican 1

Homili 19 Oktober 1997, no. 4; Homili 19 Oktober 1997, no. 6; Homili 19 Oktober 1997, no. 5

Official Vatican URL supplied in approved brief. Research snapshot; rights and final paraphrase require human review.

Dokumen resmi Vatican 2

Divini Amoris Scientia, no. 2; Divini Amoris Scientia, no. 5; Divini Amoris Scientia, no. 6; Divini Amoris Scientia, no. 9

Official Vatican URL supplied in approved brief. Research snapshot; rights and final paraphrase require human review.

Dokumen resmi Vatican 4

C'est la confiance, no. 6; C'est la confiance, no. 5; C'est la confiance, no. 4; C'est la confiance, no. 14; C'est la confiance, no. 15; C'est la confiance, no. 16; C'est la confiance, no. 36; C'est la confiance, no. 37; C'est la confiance, no. 25; C'est la confiance, no. 42 (mengutip Ms C, 7v); C'est la confiance, no. 26; C'est la confiance, no. 37 (mengutip Ms C, 29v-30r); C'est la confiance, no. 25 (merujuk Ms C, 5v); C'est la confiance, no. 25 (merujuk Ms C, 6v); C'est la confiance, no. 26 (

Official Vatican URL supplied in approved brief. Research snapshot; rights and final paraphrase require human review.

Boleh disalin dan dibagikan. Cantumkan lightofsaints.com. Hak salin