Santo Agustinus dari Hippo: Pencari Kebenaran yang Ditemukan Allah
Kisah Santo Agustinus dari Hippo, yang haus akan kebenaran, sempat mencarinya di jalan yang keliru, lalu menyerahkan diri kepada Kristus dan terus bertobat sepanjang hidupnya.

Santo Agustinus, salah satu Bapa Gereja, tidak pernah puas dengan jawaban yang dangkal. Ia haus akan kebenaran, dan rasa haus itu terus membuatnya gelisah. Sejak kecil ia menerima pendidikan Kristiani dari ibunya, Monika, yang tetap sangat dekat dengannya.

Namun masa mudanya berjalan mengembara. Menurut ringkasan Paus Benediktus XVI, Agustinus sempat mengira kebenaran ada dalam gengsi, karier, harta, dan janji kebahagiaan yang serba cepat. Ia berbuat salah, mengalami duka dan kegagalan, tetapi tidak berhenti mencari. Dalam Confessions, kisah hidup yang ia tulis sendiri, ia menegaskan bahwa hatinya selalu tertarik kepada Kristus, kasih yang ia terima dari ibunya sejak kecil.
Pencarian itu membawanya ke buku-buku filsafat. Bacaan itu menunjukkan adanya Logos, yaitu akal yang menjadi asal seluruh dunia. Tetapi filsafat tidak bisa memberi tahu bagaimana cara sampai kepada Logos yang terasa begitu jauh. Menurut Benediktus XVI, kebenaran itu baru tersingkap penuh ketika Agustinus membaca surat-surat Santo Paulus di dalam iman Gereja Katolik.
Titik baliknya diceritakan Agustinus sendiri dalam Confessions. Di tengah pergulatan batin yang menyiksa, ia menyendiri di sebuah taman. Di sana ia mendengar suara seorang anak melantunkan ajakan untuk mengambil dan membaca. Ia teringat pertobatan Antonius, Bapa hidup monastik, lalu membuka kitab surat-surat Paulus yang baru saja ia baca.
Pandangannya jatuh pada bagian Surat Roma yang mengajak meninggalkan perbuatan daging dan mengenakan Kristus. Agustinus merasa kegelapan keraguannya tersingkap, dan akhirnya ia bebas menyerahkan diri seluruhnya kepada Kristus. Ia memahaminya sebagai karya Allah yang mempertobatkannya. Ini kesaksian pribadinya, bukan catatan mukjizat; Benediktus XVI menyebutnya pertobatan pertama yang menentukan.
Agustinus kemudian menulis bahwa Allah yang ia cari dengan usahanya sendiri ternyata lebih dekat kepadanya daripada dirinya sendiri dan tidak pernah meninggalkannya. Menurut tafsir Benediktus XVI, bukan Agustinus yang menemukan Kebenaran, melainkan Kebenaran, yaitu Allah, yang mencari dan menemukannya. Pada Malam Paskah tahun 387, Uskup Ambrosius membaptisnya di Milan. Itu puncak pertobatannya, tetapi bukan akhir perjalanannya.

Ia kembali ke Afrika dan mendirikan biara kecil bersama beberapa sahabat untuk berdoa dan belajar. Hidup tenang itu berlangsung tiga tahun. Lalu, di luar kehendaknya, ia ditahbiskan imam di Hippo untuk melayani umat. Ia belajar mewartakan iman kepada orang-orang sederhana dan hidup bagi mereka. Menurut Benediktus XVI, menyadari bahwa sesama dijangkau dengan kesederhanaan dan kerendahan hati adalah pertobatan keduanya.
Masih ada langkah terakhir. Pada pertobatan ketiga ini, Agustinus memohon pengampunan Allah setiap hari. Di tahun-tahun terakhirnya, ia memeriksa kembali semua karyanya secara kritis dalam tulisan yang dikenal sebagai Retractationes. Ia wafat dalam kerendahan hati yang dihidupinya hari demi hari. Bagi Benediktus XVI, ketiga langkah itu adalah satu pertobatan besar yang tetap menjadi teladan bagi setiap orang.

- Status Gereja
- Santo; Gereja merayakan pestanya dan memohon perantaraannya
- Gelar
- Bapa Gereja
- Ibu
- Santa Monika, yang memberinya pendidikan Kristiani
- Baptisan
- Malam Paskah tahun 387 di Milan, oleh Uskup Ambrosius
- Imamat
- Ditahbiskan imam di Hippo di luar kehendaknya, tiga tahun setelah mendirikan biara kecil di Afrika
- Karya akhir hidup
- Retractationes, tinjauan kritis atas karya-karyanya sendiri
Bawa kisah ini dalam doamu.
Konteks & sumber
Paragraf pembuka audiensi 27 Februari 2008; Paragraf tentang Confessions, audiensi 27 Februari 2008; Paragraf langkah pertama pertobatan, audiensi 27 Februari 2008 (merujuk Confessions III, 4, 8); Paragraf langkah pertama pertobatan, audiensi 27 Februari 2008; Paragraf tentang taman, audiensi 27 Februari 2008 (merujuk Confessions VIII, 12, 29); Paragraf tentang taman, audiensi 27 Februari 2008 (merujuk Roma 13:13-14); Paragraf tentang taman, audiensi 27 Februari 2008 (merujuk Confessions VIII, 1
Official Vatican URL supplied in approved brief. Research snapshot; rights and final paraphrase require human review.
Salam kepada kelompok khusus berbahasa Inggris, akhir audiensi 25 Agustus 2010; Penutup katekese, sebelum salam kepada kelompok khusus; Katekese audiensi 25 Agustus 2010, paragraf tentang kehausan akan Kebenaran; Katekese audiensi 25 Agustus 2010, paragraf tentang perjalanan yang tidak mudah; Katekese audiensi 25 Agustus 2010 (merujuk Confessions III, 6, 11; X, 27, 38); Katekese audiensi 25 Agustus 2010, paragraf yang sama
Official Vatican URL supplied in approved brief. Research snapshot; rights and final paraphrase require human review.
Boleh disalin dan dibagikan. Cantumkan lightofsaints.com. Hak salin


