Santo Fransiskus dari Assisi: Dari Rasa Pahit Menuju Sukacita
Kisah Santo Fransiskus dari Assisi, pemuda kaya yang perlahan bertobat, dituntun Tuhan kepada orang yang menderita kusta, lalu memilih hidup miskin dalam persekutuan Gereja demi mengikuti Kristus.

Fransiskus tumbuh di Assisi sebagai anak keluarga kaya. Ayahnya seorang pedagang kain. Masa remaja dan masa mudanya ringan tanpa beban, dan ia memupuk cita-cita kesatria yang dikagumi pada zamannya. Pada usia 20 tahun, ia ikut dalam sebuah kampanye militer.
Namun ia justru ditawan, jatuh sakit, lalu dibebaskan. Setelah pulang ke Assisi, hidupnya tidak berubah dalam sekejap. Pertobatannya berlangsung perlahan. Sedikit demi sedikit, ia meninggalkan gaya hidup duniawi yang selama ini ia jalani.
Perubahan paling dalam terjadi dalam perjumpaannya dengan orang-orang yang menderita kusta. Pada bulan-bulan terakhir hidupnya, Fransiskus menyusun Wasiat. Seperti dijelaskan Paus Benediktus XVI, di sana ia mengenang bahwa dulu melihat mereka terasa pahit baginya, dan ia memandang sekitar 25 tahun pertama hidupnya sebagai masa dalam dosa. Namun ia bersaksi bahwa Tuhan sendiri menuntunnya ke tengah mereka. Yang semula pahit berubah menjadi manis bagi jiwa dan badannya.
Sebuah kisah terkenal dari masa itu, yang diwariskan tradisi tentang hidupnya, menceritakan Fransiskus turun dari kudanya dan memberi cium damai kepada seorang penderita kusta. Benediktus XVI menegaskan bahwa melayani mereka bukan sekadar kebaikan sosial. Itu pengalaman iman yang sungguh-sungguh, digerakkan oleh prakarsa kasih karunia dan kasih Allah. Orang-orang yang dulu ia hindari kini ia kenali sebagai saudara untuk dikasihi.

Pada masa pertobatan itu pula, menurut tradisi yang dikisahkan sumber-sumber Gereja, Fransiskus berdoa di depan salib di gereja kecil San Damiano dan mengalami panggilan Kristus untuk memperbaiki Gereja-Nya. Ia menanggapinya dengan bekerja memperbaiki bangunan gereja kecil itu dengan tangannya sendiri. Kelak panggilan ini dipahami sebagai ajakan yang lebih dalam: membarui Gereja Kristus sendiri.
Kemurahan hatinya kepada orang miskin membuat ayahnya, Bernardone, menegurnya. Di hadapan Uskup Assisi, Fransiskus menanggalkan pakaiannya sebagai tanda bahwa ia melepaskan warisan ayahnya. Menurut Vita Prima yang dirujuk Paus Fransiskus, Uskup Guido memahami tindakan itu, segera memeluknya, menyelimutinya dengan mantolnya, dan sejak itu menjadi penolong serta pelindungnya.
Paus Fransiskus memaknai peristiwa itu sebagai pilihan untuk menjadi miskin. Menurutnya, itu bukan pilihan ideologis, melainkan pilihan untuk serupa dengan Yesus dan mengikuti-Nya sampai akhir.
Setelah sempat hidup sebagai pertapa, pada 1208 Fransiskus mendengar bagian Injil Matius tentang Yesus yang mengutus para rasul. Ia merasa dipanggil untuk hidup miskin dan berkhotbah. Beberapa rekan bergabung dengannya. Pada 1209 ia pergi ke Roma untuk mengajukan rencana bentuk hidup Kristiani yang baru kepada Paus Innosensius III. Ia selalu bertindak dalam persekutuan penuh dengan pimpinan Gereja.

Dari kasihnya kepada Kristus lahir kasih kepada sesama dan kepada semua ciptaan Allah; rasa persaudaraan itu mengilhami Kidung Segala Makhluk yang terkenal. Benediktus XVI melukiskannya sebagai orang kudus yang penuh sukacita: kesederhanaan, kerendahan hati, iman, kasih kepada Kristus dan kebaikannya kepada setiap orang memberinya kegembiraan dalam segala keadaan.
Fransiskus wafat pada malam 3 Oktober 1226 di Portiuncula. Setelah memberkati anak-anak rohaninya, ia meninggal sambil berbaring di lantai tanah. Dua tahun kemudian, Paus Gregorius IX memasukkannya ke dalam daftar para santo.

- Kelahiran
- Assisi, akhir 1181 atau awal 1182, dalam keluarga pedagang kain yang kaya
- Salib San Damiano
- Menurut tradisi, kemungkinan terjadi tahun 1205
- Menghadap Paus
- Tahun 1209, kepada Paus Innosensius III di Roma
- Wafat
- Malam 3 Oktober 1226, di Portiuncula
- Status Gereja
- Santo; dimasukkan ke dalam daftar para santo oleh Paus Gregorius IX dua tahun setelah wafatnya
Bawa kisah ini dalam doamu.
Konteks & sumber
Audiensi Umum 27 Januari 2010, paragraf tentang wafat Fransiskus; Audiensi Umum 27 Januari 2010, paragraf pembuka biografi; Audiensi Umum 27 Januari 2010, paragraf tentang masa pertobatan; Audiensi Umum 27 Januari 2010, paragraf tentang Salib San Damiano; Audiensi Umum 27 Januari 2010, paragraf 'Let us return to the life of St Francis'; Audiensi Umum 27 Januari 2010, paragraf tentang tahun 1208–1209; Audiensi Umum 27 Januari 2010, paragraf tentang karisma dan Gereja; Audiensi Umum 27 Januari 201
Official Vatican URL supplied in approved brief. Research snapshot; rights and final paraphrase require human review.
Homili Benediktus XVI, Assisi, 17 Juni 2007, bagian tentang Fransiskus dan Daud
Official Vatican URL supplied in approved brief. Research snapshot; rights and final paraphrase require human review.
Homili Paus Fransiskus, Assisi, 4 Oktober 2013, poin 1; Homili Paus Fransiskus, Assisi, 4 Oktober 2013, poin 3
Official Vatican URL supplied in approved brief. Research snapshot; rights and final paraphrase require human review.
Sambutan tertulis Paus Fransiskus, Ruang Pelepasan, Assisi, 4 Oktober 2013
Official Vatican URL supplied in approved brief. Research snapshot; rights and final paraphrase require human review.
Boleh disalin dan dibagikan. Cantumkan lightofsaints.com. Hak salin


