Santo & Santavatican.vaDiperingati 3 Desember2 menit baca

Santo Fransiskus Xaverius: Dari Paris ke Maluku demi Injil

Kisah Santo Fransiskus Xaverius, pemuda cerdas yang meninggalkan karier duniawinya setelah bertemu Ignatius dari Loyola, lalu berlayar hingga Maluku dan mengajarkan iman lewat nyanyian dalam bahasa setempat.

Ilustrasi bergaya gouache seorang imam berjanggut dengan jubah gelap, duduk di atas batu di bawah pohon dekat pantai. Mulutnya terbuka seperti bernyanyi dan satu tangannya terangkat di depan dada. Sekelompok orang berkulit cokelat dengan pakaian kain berwarna lembut duduk dan berdiri menghadapnya; beberapa juga tampak bernyanyi. Di belakang mereka terlihat perahu bercadik, laut biru kehijauan, pulau hijau dan pohon kelapa.
Ilustrasi Santo Fransiskus Xaverius

Di Paris, seorang pemuda dari Navarra sedang membangun masa depannya. Fransiskus Xaverius lahir pada 1506 di Spanyol utara, dalam keluarga bangsawan yang sudah jatuh miskin. Di Paris ia belajar dan dikenal cerdas serta baik hati, tetapi arah hidupnya masih duniawi. Ia sedang meniti karier untuk dirinya sendiri.

Di kota itu pula ia bertemu Ignatius dari Loyola. Ignatius membimbingnya menjalani latihan rohani. Sumber tidak menceritakan berapa lama prosesnya atau bagaimana pergulatannya, tetapi akibatnya jelas: hidup Fransiskus berubah.

Ilustrasi: Fransiskus Xaverius mendengarkan Ignatius dari Loyola berbicara di meja kayu sederhana di ruang belajar Paris; cahaya jendela menerangi keduanya.
Di Paris, Ignatius membimbing Fransiskus menjalani latihan rohani. · Ilustrasi

Perubahan itu menuntut pilihan. Fransiskus meninggalkan seluruh karier duniawinya untuk menjadi misionaris. Bersama Ignatius dan beberapa rekan, ia membentuk Serikat Yesus, yang anggotanya disebut Yesuit. Mereka menyerahkan diri untuk melayani Paus demi kebutuhan Gereja yang paling mendesak pada masa itu. Fransiskus mengucapkan kaul, lalu ditahbiskan menjadi imam dan diutus ke Timur untuk mewartakan Injil.

Perjalanan itu tidak ringan. Pelayaran pada zaman itu keras dan berbahaya; banyak orang meninggal karena kapal karam atau penyakit. Fransiskus menghabiskan lebih dari tiga setengah tahun di atas kapal, sekitar sepertiga dari seluruh masa misinya.

Ilustrasi: Fransiskus Xaverius berdiri di geladak kapal, memandang laut lepas dengan satu tangan di pagar kayu; cahaya fajar menyentuh wajah dan bahunya.
Lebih dari tiga setengah tahun hidup Fransiskus dihabiskan di atas kapal. · Ilustrasi

Ia tiba di Goa, India, dan menjadikannya basis, tetapi tidak menetap di sana. Ia pergi kepada para nelayan miskin di pesisir selatan India. Ia mengajarkan katekismus, yaitu pelajaran dasar iman, serta doa kepada anak-anak. Ia juga membaptis dan merawat orang sakit. Sesibuk apa pun, ia tidak meninggalkan doa, sebab ia tahu kekuatannya datang dari persatuan dengan Allah.

Doa juga menggerakkan langkah berikutnya. Menurut katekese Paus Fransiskus, suatu malam ketika berdoa di makam seorang rasul, ia merasa perlu pergi melampaui India. Ia menyerahkan karya yang sudah ia mulai kepada orang-orang yang dapat dipercaya, lalu dengan berani berlayar ke Kepulauan Maluku, pulau-pulau terjauh di Nusantara.

Ilustrasi Santo Fransiskus Xaverius berlutut berdoa di depan makam batu sederhana dalam gereja gelap, dengan satu lilin di atas makam.
Pada suatu malam, doa di makam seorang rasul menggerakkan langkah berikutnya. · Ilustrasi

Di Maluku, ia menerjemahkan katekismus ke dalam bahasa setempat. Lalu ia mengajak orang-orang menyanyikannya, karena pelajaran iman lebih mudah dipelajari lewat nyanyian. Injil tidak datang sebagai pelajaran asing, tetapi masuk melalui lagu dalam bahasa mereka sendiri.

Ke mana pun ia pergi, Fransiskus memberi perhatian besar kepada orang sakit, orang miskin, dan anak-anak. Dalam surat kepada Serikat di Roma, ia bersaksi bahwa bahaya dan kesulitan yang ditanggung demi kasih kepada Yesus Kristus justru menjadi sumber penghiburan surgawi.

Ia juga menjalani tiga tahun yang sangat sulit di Jepang. Setelah itu ia berusaha masuk ke Tiongkok, tetapi gagal. Pada 3 Desember 1552 ia wafat di Pulau Shangchuan pada usia 46 tahun, dalam keadaan terlantar, hanya ditemani seorang Tionghoa. Gereja kini menghormatinya sebagai santo dan pelindung karya misi.

Ilustrasi: Fransiskus Xaverius terbaring tenang di atas tikar dalam shelter sederhana di Pulau Shangchuan, ditemani seorang pria Tionghoa; cahaya fajar masuk dari pintu menghadap laut.
Fransiskus wafat di Pulau Shangchuan, hanya ditemani seorang Tionghoa. · Ilustrasi
Lahir
1506, Navarra, Spanyol utara
Status Gereja
Santo; pelindung karya misi
Komunitas
Ikut membentuk Serikat Yesus (Yesuit) bersama Ignatius dari Loyola
Karya di Maluku
Menerjemahkan katekismus ke bahasa setempat dan mengajarkannya lewat nyanyian
Wafat
3 Desember 1552, Pulau Shangchuan, pada usia 46 tahun

Bawa kisah ini dalam doamu.

Konteks & sumber

Dokumen resmi Vatican 1

Katekese, paragraf pembuka setelah salam; Katekese, paragraf tentang asal-usul; Ringkasan kata-kata Bapa Suci; Katekese, paragraf tentang perjalanan laut; Katekese, paragraf tentang Goa dan India; Katekese, paragraf tentang keberangkatan ke Maluku; Katekese, paragraf tentang Maluku; Katekese, kutipan surat (Letter to the Society at Rome, 21 Januari 1548, menurut sumber); Katekese, paragraf tentang doa dan pelayanan; Katekese, paragraf tentang Jepang; Katekese, paragraf tentang wafatnya

Official Vatican URL supplied in approved brief. Research snapshot; rights and final paraphrase require human review.

Boleh disalin dan dibagikan. Cantumkan lightofsaints.com. Hak salin